tulisan berjalan

“Teruntuk Sebuah Nama, yang terukir di prasasti kehidupan; pemberi warna di lembaran perjalanan waktu; pelengkap ruang kosong bernama Coste Sinistra; Teruntuk Sebuah Nama, Yang terucap lirih dalam sujud; kuikat cintaku dalam sucinya mahligai pernikahan; kusimpan rinduku hanya untuk putihnya perkawinan; dan kuukir sayangku di keeratan pertautan jiwa abadi; Teruntuk Sebuah Nama; Aku mencintaimu karena Allah).

Sabtu, 02 Februari 2013

Masa Kecilku

dear blog, udah lama g bikin sesuatu dsini ya.. kondisi kesehatan yang semriwing bikin mood menulis jadi berantakan. kali ini saya akan menceritakan tentang sosok yang mungkin sudah tak asing bagi kita tebaklah teman... yayaya... kita mulai saja.. sosok ini sangat istimewa bagiku, bagi adik - adikku, bagi bapakku, bahkan bagi orang - orang disekitarnya. kehadirannya selalu ditunggu, kepergiannya selalu dirindukan, dan kelucuannya selalu melekat di hati kami. setiap saat aku melihatnya, bercerita, bercanda tawa bahkan berantem dengannya tanpanya aku sepi bahkan semua orang di rumah kami sangat tergantung pada dirinya. dialah ibuku.. ibuku cuma wanita biasa, keturunan trah bangsa melayu asli, Riau Silip tepatnya.. nenekku asli suku melayu Sinar Gunung, yang menurut cerita nenek sendiri masih merupakan keturunan kuntilanak. hhiiiiiiyyyy..... terdengar seram ya teman, tapi itulah dongeng nenekku ketika aku masih kecil ketika kenakalanku dan sepupuku sudah di luar ambang batas kewajaran nenek akan mencubit kami, kemudian memandikan kami dengan paksa, dan sekali lagi memaksa kami untuk makan tanpa memikirkan apakah saat itu kami sedang nafsu makan atau tidak. nenekku memiliki caranya sendiri untuk mengasuh dan mendidik cucu-cucunya khususnya yang extra seperti aku dan sepupuku tuti. setelah kami lelah menangis karena kesakitan dicubiti nenek, kami akan makan banyak. nenk dengan sabar menyuapi kami bergantian. kadang nenek membuat telur mata sapi untuk kami, tapi kadang atas permintaan kami sendiri, kami hanya mau makan kalau menunya nasi garam, tanpa telur, tanpa sayur. seingatku, waktu kecil dulu, aku sangat membenci sayuran, semua jenis sayuran. entah berapa kali ibuku harus berusaha keras membujukku untuk mencicipi aneka jenis sayuran. tapi tetap saja, aku benci.... aku benci sayuran. terkadang kalau pikiran ibu sedang runyam, tak jarang aku dijejalinya secara paksa dengan sayuran diantara tumpukan nasi ditangannya aku merinding, menahannya dengan lidahku, kemudian spontan bulu kudukku akan merinding, mataku membelalakm dan byaaarrrrr... aku akan memuntahkannya. berkali - kali ibu mencubitku, karena kebiasaan burukku itu, tapi meskipun kupaksakan, tubuhku tetap menolak aneka jenis sayuran. hingga bapak lah yang sering menyiasati agar aku tak kekurangan gizi dan vitamin serta serat dari sayuran. bapakku sering membelikan aneka buah - buahan untukku, dari mulai yang murah meriah sampai yang menurut keluarga kami mahal. maklumlah kawan saat aku masih kecil, bapakku cuma kerja serabutan, bahkan pernah menjadi tukang sapu pasar Sungailiat. jadi buah - buahan seperti apel itu sudah merupakan buah mahal untuk kami sekeluarga. bapakku lebih sering membawakan pisang, jeruk, pepaya, atau salak. mungkin hanya pada saat gajian saja bapakku akan membelikanku dan ibu buah mahal tersebut, itu pun masing - masing hanya dapat satu buah. ahhh... ketika mengingat masa kecilm hatiku perih.. ketika masa dewasaku,ibu sering bercerita tentang pahit manis roda kehidupan keluarga kami. sangat detail kawan, dari orang tuaku menikah, sampai sekarang.. bapak dan ibuku menikah pada tahun 1988, pada saat menikah, ibuku berusia 19 tahun, dan bapakku 24 tahun. ibuku wanita biasa keturunan suku bangsa asli melayu Bangka, dan bapakku merupakan keturunan suku Jawa, tapi keluarga besar bapakku sudah lama menetap di bangka, hingga kadang bapakku saja sedikit kesulitan kalau harus berbicara menggunakan bahasa jawa. beliau bisa, tapi tidak fasih.. sedangkan aku? jangan ditanya... bahasa jawa menurutku adalah kata sandi yang sulit untuk kupecahkan :) saat mereka menikah, ibuku hanya gadis biasa tamat SMP yang tidak bekerja produktif menghasilkan uang, ya..ibuku hanya ibu rumah tangga. dan bapakku saat itu tamat STM mesin yang bekerja sebagai tenaga guru honorer di SMP tempat ibuku bersekolah. teman - teman pasti sudah bisa menebak, yuhuuuu kisah cinta ibu dan bapakku addalah kisah cinta guru dan murid. lucu....!! menurut bapakku, ibuku tidak pintar, tapi ibuku rajin. ibuku harus menempuh perjalanan jauh dr desa nenekku (Riau) ke desa (Silip) untuk bersekolah. kadang - kadang ibuku diizinkan membawa sepeda milik atok (kakekku), tapi seringnya malah harus berjalan kaki, atau mengompreng truk pengangkut kaolin dan berdesak - desakan dengan teman - temannya diatas bak penuh kaolin tersebut. kawan... itulah perjuangan ibuku demi pendidikan. tak bohonglah itu kisah laskar pelangi, ibuku salah satu saksinya.. cukup intermezonya teman. kita lanjutkan di kehidupan rumah tangga bapak dan ibuku di awal pernikahan. bapakku orang yang sangat mandiri, sejak sekolah ST setingkat SD lah untuk jaman sekarang, dulu sih namanya ST sekolah Teknik. menurut cerita bapak, mbahku sering mpot - mpotan menghidupi belasan anaknya dan menyekolahkannya jadi sejak ST bapakku sudah berjuang mati - matian untuk mendapatkan beasiswa demi membantu orang tuanya dan tuhan memang memberkahi otak bapakku dengan kecerdasan yang lebih dibandingkan teman - temannya. sehingga bea siswa itu mudah saja didapatnya. beda sepertiku, yang menggapai beasiswa seperti menggapai tangkai rambutan, kadang berhasil kadang lenyap, karena nilaiku tidak stabil. hihihihi.... sampai masa STMnya bapak tidak pernah bisa mengganti seragam lusuhnya, sebagai remaja ABG yang mulai puber, tentu saja bapakku mlai merasakan yang namanya malu memakai kemeja putih menipis dan kekuningan atau celana abu - abu yang penuh tambal, tipis menua karena terlalu sering dicuci bilas dan disetrika arang. berkali - kali bapakku menangis, hanya demi seragam baru, tapi mbahku tetap tidak mengabulkannya. bukan tidak mau kawan, tapi tidak ada.. uangnya tidak ada, untuk makan saja, setiap anak mendapat jatahnya sendiri, tidak bisa makan banyak. mataku seringkali sembab tiap mendengar kisah bapakku ini. bapakku yang tidak pernah bersekolah dengan biaya (karena beasiswa dari ST-STM), tidak pernah merasakan uang saku, tidak pernah makan sampai kenyang, tapi tidak pernah mengeluh. dia mencintai ilmu, mencintai sekolahnya dan mencintai anugrah tuhan atas kecerdasan yang dimilikinya. begitu menamatkan pendidikan di STM, bapak tidak bisa melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi dan harus mengubur dalam mimpi - mimpiny untuk kuliah di ITB. bapakku maniak mesin, cita - citanya ingin menjadi insinyur, atau ahli mesinlah lebih kurangnya. sejak ST sampai StM beliau belajar mati - matian demi beasiswa dr PT Timah untuk lulusan terbaik akan dikuliahkan Gratis di PTN apapun yang dipilihnya. bapakku jumpalitan demi beasiswa itu, hanya saja... nasib kurang beruntung tampaknya harus menerpa bapakku, ketika beliau lulus STM dengan predikat lulusan terbaik, PT Timah runtuh, kolaps kawan.. merugi, bangkrut, pailit... sehingga program beasiswa itu dihapuskan, dan bapakku hanya bisa menggenggam ijasah lulusan terbaiknya dengan erat, menatap kepergian teman - temannya ke tanah jawa untuk melanjutkan pendidikan, dan mengantar kepergian kekasihnya jaman dulu (kata ibuku :)) ke dermaga. bapakku memang tidak tampan kawan, tapi taukah kalian? bapakku bs "berteman dekat" dengan slah satu anak pejabat dikotanya dan merupakan yang tercantik disana saat itu. hebat kan? hohohohoo... berita terahir yang ku dengar dari tante ika, teman bapakku dulu, wanita itu sekarang sudah menjadi dokter gigi, dan bersuamikan dokter pula. ok skip kawan bagian ini.. kita lanjutkan... karena bapakku gagal kuliah, beliau stress berat, dan memilih berangkat ke jawa untuk bekerja, bapakku mengitari jakarta, naik turun kereta api ekonomi dengan memanjat agar gratis, jakarta - jogja.. bekerja sebagai petani membantu adik mbahku di bantul sana, kadang mengamen, pokonya serabutan. sampai kemudian mbahku yang dibangka sakit keras dan mengirimkan bapakku uang agar segera pulang dari bantul, mbahku menuliskan surat permintaan maafnya karena dari kecil tidak bisa menyekolahkan bapakku dengan layak, bahkan harus membiarkan bapakku merantau dan bekerja serabutan demi menyambung hidup. mbahku ingin bapak pulang tapi bapakku berhati keras, dia serahkan semua uang kiriman mbahku ke leleknya (adik mbahku) yang menurut bapak lebih membutuhkan, bapakku menyuruh leleknya beternak saja,sambil menggarap sawah. kemudian bapakku minta lelek agar dimasakkan ayam dengan uang yang diberikan. padahal bapakku punya rencana lain, ketika keluarga lelek bapakku sibuk menyiapkan masakan ayam dan membeli ternak untuk peliharaan, bapakku mengambil gitarnya dan pamitan untuk mengamen, tak ada yang curiga.. tanpa membawa baju dan uang sepeserpun, bapakku pulang ke bangka tanpa pamit. hanya membawa surat dari mbahku. beliau membiayai perjalanan pulang kebangka dengan mengompreng truk, mengamen, memanjat kereta api, dan begitulah sampai berhasil mendarat di pulau bangka kembali. bapakku sengaja tidak berpamitan karena tidak mau leleknya sedih, leleknya sangat menyangangi bapakku, bahkan jauh lebih sayang dibandingkan dengan menyayangi anak - anaknya sendiri. bapakku cuma berpamitan dengan salah satu anak lelek yang dia percaya. kemudian tak lama dari kejadian itu, mbahku meninggal. dan bapak kembali merantau ke daerah Riau Silip menjadi tenaga guru honorer dan mendapatkan jodohnya disini. ibuku... bisa kalian bayangkan kawan, bagaimana keadaan ekonomi bapak dan ibuku pada awal pernikahan mereka? buruk... suram.. bapakkku ngotot tidak mau tinggal di rumah nenekku (mertua), dan memboyong ibuku ke rumah komplek gratis hasil lobi dengan pamannya yang kebetulan punya jabatan di komplek itu. tempat tinggal gratis kawan... tapi walaupun te,pat tinggal gratis, tetap saja butuh makan, gaji bapakku tidak cukup lagi ketika aku lahir. aku tidak mau menyusui ASI, dan sejaak usia tiga bulan, sudah menjadi anak sapi dengan susu formulanya. bapak dan ibuku kembali jumpalitan karenaa gaji bapakku hanya cukup membeli susuku saja, tidak bisa mencukupi kebutuhan lainnya. sehingga bapakku mengundurkan diri dari pekerjaan honorer gurunya, dan memilih kerja serabutan, kadang bapakku menjadi kuli kebun orang, kadang menjadi tukang sapu pasar, dan ibuku pun harus turun tangan pula menjadi kuli kebun, dan sudah dapat dipastikan, aku pun menjadi anak kebun, berpindah dari kebun satu ke kebun lain. karena ibuku tidak mungkin meninggalkanku sendirian di rumah. aku akan dibawa kemana saja, dari kebun ke kebun, didudukkan ditanah, diberikan mainan dari kayu, dan melihat ibuku bekerja, kadang aku menaangis karena nyamuk atau lapar. ah...terbayang repotnya ibuku.. aku tentu saja tak bisa mengingat semua kejadian itu, karena aku masih bayi. ibukulah yang sering menceritakan kepadaku di masa dewasaku ini. Selengkapnya...

Senin, 04 Juli 2011

Lagu yang aku tulis, berikan dan aku nyanyikan untukmu...

Female vocal:
Aku menunggumu.. sebagai imamku
Aku menantimu.. yang terbaik dari Tuhan untukku

Aku menunggumu.. yang tempatkanku sebagai wanita teristimewa
Aku menantimu.. yang butuhkanku selalu


Chorus:
Semoga dirimu adalah terbaik untukku
Tuk temani diriku di dalam sisa hidupku
Cerminkan padaku kau cinta baik dan burukku
Membagi putih kelabu hidupku bersamamu

Male vocal:
Bersedia aku.. menjadi imammu
Bersedia aku.. untuk membimbingmu
Bersedia aku..

Rongga dadaku yang tanpa rusuk kirinya lengkapi diriku yang kehilanganmu
Kaulah wanita yang tepat mengisi sisi hilangku


*
Saat ku menunggu ku tak pernah tau dirimu
Dan ku bersedia menjadi orang yang kau tunggu
Hingga takdirlah yang kan bahagiakan kita...
Selengkapnya...

Sabtu, 25 Juni 2011

Detik-detik menuju tanggal pernikahan

Tanggal 24 Juli 2011? tanggal itu bukan tanggal nasional, bukan pula tanggal istimewa bagi banyak orang lain disana... tanggal sangat biasa bagi orang lain tetapi itu sangat luar biasa bagiku... karena itu tanggal yang akan memberiku suatu warna nyata dalam kehidupan.. tanggal sakral dimana aku akan melangsungkan pernikahan

Dimanakah hadirnya tanggal 24 Juli 2011 itu muncul? Mari kita runtut masalahnya... hari itu pada bulan Januari, saat aku berada di Riau Silip, Bangka. Aku menyatakan kepada pria itu bahwa aku akan menikahi putrinya.. Tidak mudah memang aku mengatakan itu, karena untuk mengatakannya saja diperlukan waktu yang begitu lama dihadapannya...

Kesepakatan kami berujung dengan ditetapkannya bulan sebelum puasa adalah bulan dimana hari pernikahan kami. Setelah terhitung diantara tanggal di bulan tersebut maka tanggal 17 Juli 2011 ditetapkan sebagai hari pernikahan kami... Tanggal tersebut kemarin baru kami sadari bahwa itu merupakan tanggal pertama kali aku menyapanya... tepatnya pada tanggal 17 Juli 2007.. di sebuah jejaring social...

Perjalanan kami saat itu ke tanggal pernikahan begitu mulus dan sesuai rencana... tidak ada masalah apapun yang berarti yang kami hadapi.. hingga pada bulan setelahnya ayahku (the super hero for me) pergi meninggalkan kami didunia ini... Semua tergoncang, rencana2 itu belumlah selesai... (akan ku tuliskan rencana-rencana itu di tulisanku selanjutnya) termasuk rencanaku di hari pernikahanku...
Ibuku yang bersedih hingga adikku yang tidak menyangka harus ditinggalkan ayahnya secepat itu...

Dan diriku hanya bisa merenung dan berjanji akan meneruskan rencana ayahku...

Ternyata efek dari kejadian tersebut menimbulkan ketidak-pastian di rencana pernikahan kami.. dari tidak jadi menikah, mengundur pernikahan serta mengundurkan diri dari pernikahan dengannya sempat terfikir oleh kami...

Namun ternyata semua itu dapat kami lewati... terima kasih yang sangat besar kepadanya, calon iistriku, dan kepada ayah-ibunyanya ,calon mertuaku yang selalu memberikan kepercayaan besar kepadaku untuk dapat menyelesaikan semua ini dibalik semua kekuranganku...

Pada tanggal 12 Mei 2011, namaku tercantum dalam suatu Diklat pada tanggal 17 Mei 2011 s.d. 22 Juli 2011... Itu berarti jika aku tetap ikut Diklat aku akan melewatkan hari pernikahanku pada tanggal 17 Juli 2011.. Sejenak aku berfikir dan akan tidak mengikuti diklat tersebut...

Pada saat itu juga aku menelepon kepada ayahnya unntuk memberikan kabar padanya, aku mengatakan bahwa aku ikut Diklat dan akan mengundurkan diri... Namun ayahnya berpikirian lain dan mengatakan pernikahan kami lebih baik di undur saja... entah itu diundur satu minggu, satu bulan ataupun satu tahun... Dan setelah mengalami negosiasi panjang, akhirnya diputuskan pernikahan kami menjadi tanggal 24 Juli 2011.. Tanggal menuju detik-detik pertautan abadi...
Selengkapnya...